Postingan

Puisi

Puisi Rindu

Sepi oleh: Dwikjoenk dan seandainya waktu bisa ku putar kembali aku ingin dia kembali padaku dimana hari itu dia masih bersamaku kini dia telah pergi meninggalkanku sendiri sepi tanpanya kenangan yang dulu trus membayangiku bagai siluet-siluet dalam jejak langkahku candamu tawamu senyumanmu kini telah tiada yang tersisa hanyalah sepi Bangli, 6 April 2019

Puisi kehidupan

Bibit-bibit Kehidupan oleh: Dwijoenk ketika mentari mulai bersinar kau mulai beranjak dengan segala perlengkapanmu kau terlihat tampan dengan bajumu tas gendongmu yang selalu di punggung yang selalu kau penuhi dengan berbagai senjata untuk menerangi dunia dan itu pertanda bahwa kau siap untuk melewati hari itu langkahmu tak pernah lelah senyummu tak pernah pudar dan semangatmu tak pernah kekang oleh waktu kau selalu setia disetiap langkahmu bagai seorang petani setiap hari kau membajak sawahmu kau buat aliran-aliran kecil untuk menyirami tanah-tahan yang kering tak kau biarkan tersisa sedikitpun dan kau gemburkan setiap jengkal tanah itu kemudian kau tanam bibit-bibit di setiap celah kau rawat setiap hari kau pupuk selalu tak kau biarkan orang merusaknya hingga bibit-bibit itu tumbuh menjadi sebuah tanaman yang berkualiatas ketika kau puas, kau tersenyum kau sangat bangga melihat semua yang kau tanam akan menjadi tumbuhan yang berguna untuk semua orang

Puisi Aku Tau

Aku Tau oleh: Dwikjoenk aku tau bahwa penantian ku hanyalah sia-sia harapan-harapan itu hanyalah semu namun aku tetap belajar untuk selalu sabar semua hanyalah angan-angan belaka dan mimipi-mimpi itu hanyalah ilusi mungkin aku manusia yang paling bodoh menanti sebuah harapan kosong guruku pernah berkata jika kau ingin mendapatkan mutiara maka kau harus berani terjun kelautan yang dalam itu adalah alasan kenapa aku tetap menanti hujan dimusim kemarau

Puisi Pengabdi Untuk Negeri

Pengandi untuk Negeri cipt. Dwikjoenk engkau bagai cahaya yang menerangi kegelapan sehingga orang-orang mampu berjalan diantara gelapnya lorong-lorong sinarmu lembut mampu menghangatkan jiwa-jiwa yang beku engkau laksana embun penyejuk yg memberikan kesejukan disaat hati ini mulai merasa gundah segala ucapmu adalah semangat dijiwa kami kata-katamu mampu melukiskan warna merah, kuning, hijau, jingga dan seterusnya kau telah menoreskan segala warna hingga kami menjadi pelangi-pelangi yang indah kau mampu mengubah imajinasi kami yang engkau tuang dalam goresan-goresan kuas hingga menjadi warna yang nyata kau adalah sosok pahlawan bagi kami kau adalah panutan dalam hidup kami kau adalah jiwa dari jiwa bagai lilin yang mencair engkau rela membakar dirimu demi menerangi dunia yang gelap cahayamu lembut bagai sutra pengabdi untuk negeri kaulah pahlawan tanpa tanda jasa... 11 November 2018

Puisi Kalian Hebat

Kalian Hebat karya: Kadek Dwi Aryani Tak peduli dengan matahari yang membakar kulitmu Tak peduli dengan tanah yang menyentuhmu Tak peduli dengan peluh yang membasahi ragamu Lelahmu adalah langkahmu, Ayah, Ibu... Cintamu, Kasihmu, Kau berikan padaku Tulangmu, Keringatmu, Kau berikan padaku Meski lelah, kau tetap tersenyum padaku meski aku sering berbuat salah kau selalu memberikan senyum dan cinta Kau selalu sabar mendidiku tak pernah sedikitpun kau meminta balasan aku tahu, semua itu agar aku bahagia Ayah, Ibu... terimakasih kau telah menjadikan aku menjadi manusia yang berarti kau adalah penuntunku kau adalah panutanku Ayah, Ibu... maafkan aku jika aku belum mampu membuatmu bahagia

Puisi Mentari Pagi

Mentari pagi                   Engkau selalu hadir disetiap pagi    Engkau penyemangat hidup ku    Engkau selalu membangunkan ku di pagi hari      Engkau membuat ku tersenyum di pagi hari.        Engkau penyemangat ku untuk ke sekolah.            Engkau selalu bisa membuat semua orang bahagia.                Sinar mu menembus celah-celah jendela kamarku                                aku kadang menyempatkan untuk melihatmu terbit dengan indahnya.                  Dipagi hari yang Indah.                Mentari pagi penyemangat hidup.      Karya : witari

Puisi Ibuku

Judul puisi: ibuku Ciptaan:desak nyoman pratiwi Ibuku.... Engkau adalah pahlawanku, Yang melahirkan aku.  Engkau merawat aku hingga  Aku menjadi besar sampai sekarang. Engkau adalah pedomanku,  Bagai burung yang menyayangi Anaknya sendiri. Ibu.... Engkau mengajarkanku Dari tidak bisa berjalan Sampai sakarang bisa berjalan. Engkau melahirkan aku Dengan susah payah,  Menyekolahkan aku hingga Aku bisa membaca. Ibu.... Terima kasih atas jasamu Semuanya,aku sangat menyayangi Mu ibu. Setiap ibu meneteskan  Air mata, aku juga merasa sedih Aku sayang ibu I love you ibuku.